BAHASA INDONESIA UNTUK PENERJEMAHAN

(Disajikan dalam pelatihan "Bahasa Indonesia untuk Penerjemahan" yang diselenggarakan PeMad International Translation pada 7 Maret 2015 di Yogyakarta)

Icuk Prayogi, M.A.
Staf pengajar pada program studi Pendidikan Bahasa Indonesia
Universitas PGRI Semarang
prayogi_be@yahoo.com
@kenallinguistik, @icukprayog

 

Pengantar

Merujuk pada hipotesis Sapir-Whorf bahwa bahasa merefleksikan cara pandang suatu masyarakat dalam melihat dunianya, penerjemahan—menurut saya—adalah proses memindahbudayakan satuan-satuan lingual. Konstruksi yang berbeda secara gramaikal mengemas struktur informasi dan nilai bahasa yang berbeda pula (Jufrizal, dkk. 2007). Kira-kira tonggak pemikiran Sapir-Whorf inilah yang saya pakai dalam menulis artikel ini.

Bahasa Indonesia = Bahasa "Gado-gado"?

Kegado-gadoannya dapat dilihat mulai dari sejarah, proses pembentukan, serta kodifikasinya. Bahasa yang kita pelajari sejak bangku sekolah ini bukan bahasa yang benar-benar punya penutur asli secara turun-temurun. Kalaupun ada, baru akhir-akhir ini saja banyak orangtua yang mengajarkan anak-anaknya berbahasa Indonesia ketika kecil, dengan mengabaikan bahasa daerah (asli) yang dipandang kuno. Arus perubahan masyarakat yang kini cenderung urban merupakan penyebabnya. Bahasa Indonesia dibentuk dengan intinya diambil dari bahasa Melayu dialek Riau, lalu disempurnakan dengan bahasa Jawa, Sunda, dan Belanda, serta (dalam perkembangannya) beberapa bahasa daerah lain sehingga jadilah bahasa inovasi karya anak bangsa, bahasa Melayu-Indonesia yang disebut sebagai bahasa Indonesia.

Meskipun kini muncul sikap pesimistis dari para pegiatnya, sebenarnya perkembangan bahasa Indonesia cukup baik. Pertama, proses pembakuannya masih berlangsung hingga sekarang. Kedua, bahasa Indonesia mempunyai varian informal yang beragam, mulai bahasa "gaul", "alay", hingga bahasa banci; ini menandakan bahasa Indonesia "hidup" dan "berinovasi" (Poedjosoedarmo, 2000). Ketiga, bahasa Indonesia mempunyai register yang cukup lengkap untuk semua sendi kehidupan, termasuk bidang pendidikan dan pemerintahan.

Lambat laun, bahasa Indonesia menyerap dan mengadopsi berbagai bentuk asing. Salahkah? Mari kita tengok dalam bingkai yang lebih luas. Dalam kacamata linguistik diakronis, bahasa berubah setiap saat; hanya, perubahannya tidak selalu tampak. Dari sisi tatabahasa, bahasa Indonesia sekarang dalam masa menuju bahasa yang mendekati bahasa-bahasa Indo-Eropa, yang ditandai dengan banyaknya preposisi. Dari sudut morfologi dan leksikon, semakin banyak unsur asing yang diambil. Berdasarkan fonetik, penutur bahasa Indonesia lambat laun mulai mengenal bunyi [v] atau [x] yang bukan bunyi asli bahasa-bahasa di Indonesia Barat. Dengan kata lain, bahasa Indonesia terus "menggemukkan diri". Alasannya adalah kebutuhan. Unsur-unsur asing secara otomatis kita pakai ketika dirasa perlu; sesederhana itu.

Adapun arus globalisasi pada akhirnya menjadikan teknologi, informasi, seni-budaya, dan ilmu pengetahuan internasional sebagai kebutuhan masyarakat Indonesia. Dalam proses alih bahasa dari bahasa internasional ke bahasa Indonesia--agar dapat dinikmati mayoritas orang Indonesia--terkadang terkendala oleh karakteristik BSu dan BSa itu sendiri. Mayoritas penerjemah lebih menguasai bentuk-bentuk baku bahasa asing daripada bahasa Indonesia. Bahkan, ada juga penerjemah yang lebih memahami "nilai rasa" satuan-satuan lingual asing daripada satuan-satuan lingual bahasa Indonesia. Mungkin karena jarang membaca karya penulis-penulis Indonesia, karena kurang mendalami atau menjiwai bahasa Indonesia, atau bisa juga disebabkan oleh pengaruh bahasa Indonesia yang salah. Tentu penerjemah tidak dapat disalahkan sepenuhnya karena bahasa yang lebih kita kuasai adalah bahasa yang lebih dominan kita pakai setiap hari.

Berbagai problem alih bahasa menjadikan studi linguistik tentang penerjemahan melahirkan banyak karya. Terbukti dengan banyaknya skripsi dan tesis yang tersimpan rapi di rak-rak kampus. Namun, sebagian besar dari karya-karya tersebut hanya bersifat deskriptif, tidak sampai ke tahap penyusunan teori yang spesifik bagaimana menerjemahkan karya dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, misalnya. Sebenarnya, studi linguistik kontrastif telah menjawab berbagai kerumitan tersebut, tetapi belum dibukukan secara baik dan terlalu teoretis untuk disajikan ke para pelaku alih bahasa. Oleh sebab itu, catatan sederhana tentang bagaimana karakteristik bahasa Indonesia dan bagaimana seharusnya bahasa Indonesia dipakai dalam penerjemahan ini semoga dapat meningkatkan pengetahuan para ahli alih bahasa.

(Catatan: demi efisiensi dan atas permintaan panitia PeMad International Translation, tulisan ini difokuskan pada tatabahasa dan keefektifan dalam bahasa Indonesia.)

TATABAHASA (MORFOSINTAKSIS) DAN WACANA BAHASA INDONESIA

Pada bagian ini dibahas beberapa hal yang telah diseleksi dari tatabahasa Indonesia yang jarang dikemukakan dalam perkuliahan non-Sastra Indonesia/PBSI. Adapun permasalahan keberterimaan dalam bahasa Indonesia terikat pada wacana bahasa Indonesia sehingga turut dibahas pada bagian ini.

1. Ciri-ciri subjek

Bahasa Indonesia mempunyai ciri subjek yang agak "nyleneh". Simak contoh kalimat di bawah ini.

(1) Di sini setiap hari turun hujan!

(2) Ada tamu!

(3) Berangkat saya nanti jam 5, berangkatmu jam berapa?

(4) Adalah sebuah kebetulan kita dapat menemukan si kucing yang hilang.

(5) Sudah makan, kamu?

(6) Tinggalnya di Jalan Nusantara.

Semua kalimat di atas tidak jarang kita temui. Kalimat (1) tidak memerlukan subjek karena alasan logika. Dalam bahasa Inggris bentuk semacam ini tidak diperbolehkan (umumnya diganti dengan dummy-subject "it". Kalimat (2) merupakan bentuk inversi wajib, sedangkan kalimat (3), (4), dan (5) inversinya opsional saja karena subjek diletakkan di belakang verba hanya demi alasan pementingan informasi. Adapun -nya pada kalimat (6) terpengaruh ragam informal, tetapi lazim ditemui dan beberapa linguis (misalnya Kaswanti Purwo [1984] dan Poedjosoedarmo [percakapan pribadi]) menganggapnya baku.

Kalimat-kalimat yang terasa "Indonesia sekali" di atas (kecuali [5]) jarang ditemui dalam buku-buku hasil terjemahan. Anda boleh coba menerjemahkannya ke dalam bahasa asing yang Anda kuasai. Mungkin saja hasilnya tidak pararel dengan unsur-unsur kalimat-kalimat di atas.

2. Ciri-ciri verba aktif

Verba transitif bahasa Indonesia terbagi atas verba berafiks meN-Ø, meN-kan, dan meN-i (Catatan: afiks dalam bahasa Indonesia bukan makna gramatikal sepenuhnya, melainkan makna wacana [sesuai konteks]). Perhatikan sufiks -Ø, -kan, dan -i pada contoh kalimat (7) dan (9) di bawah ini yang mempunyai makna berbeda.

(7) a. Dia mengambilkan saya buku baru.

     b. Dia mengambil buku baru (untuk saya).

     c. Dia mengambili buku baru (untuk saya).

     d. ?Dia mengambilkan buku baru untuk saya.

(8) a.*Dia menyerahkan buku baru saya.

     b.*Dia menyerah buku baru (kepada saya).

     c. Dia menyerahi saya buku baru.

     d. Dia menyerahkan buku baru kepada saya.

Biasanya, yang sering salah memakai sufiks pada verba adalah para penutur bahasa Indonesia yang berasal dari Pulau Sumatra dan para penutur bahasa Melayu. Permasalahan verba seperti ini juga diakui oleh banyak pembelajar bahasa Indonesia (bahasa Indonesia sebagai bahasa asing) serta memusingkan mahasiswa dan guru bahasa Indonesia yang sedang mempelajari morfosintaksis bahasa Indonesia. Contoh lain: kata menidur tidak ada, tetapi tidur dan meniduri ada meski artinya sangat berbeda, sedangkan relasi makna kata tinggal dan meninggali masih dekat dengan meninggalkan, namun meninggal relasinya sangat jauh. Jadi, mohon mengecek KBBI agar mengetahui kelaziman pemakaian afiks-afiks tersebut pada kata tertentu.

Lebih lanjut, hal unik lain yang terdapat dalam bahasa Indonesia ialah perihal verba lesap. Yang bertanda kurung pada kalimat (9) di bawah adalah bentuk lesap opsional.

(9) Dia (pergi) ke pasar.

Bila Anda ingin menerjemahkan ke bahasa Indonesia informal, bentuk semacam ini dapat dipertimbangkan (meskipun tiga dari empat penulis buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia sendiri mengakui kebakuan verba lesap seperti di atas).

3. Ciri-ciri verba pasif

Dalam tulisan formal, bahasa Indonesia dominan memakai verba pasif. Perhatikan contoh di bawah.

(9) Disinyalir banyak terjadi kecurangan dalam Pilpres tahun lalu.

(10) Rumah itu kemalingan!

(11) Surat itu kubaca.

(12) Lantai itu saya sapu dua hari sekali.

Prefiks di- seperti pada kalimat (9) menandakan ketidakjelasan entitas subjek. Bentuk ini biasanya dipakai pada karya ilmiah (atas dasar objektivitas) dan media massa (atas dugaan si penulis dalam rangka pembentukan opini publik). Adapun afiksasi ke-an pada bentuk dasar maling kalimat (10) tidak memerlukan objek. Pada kalimat (11) dan (12) hampir semua bentuk pronomina persona penuh (kata ganti orang utuh) lazim dianggap sebagai prefiks dari bentuk dasar. Terkait penulisan dan penyuntingan, penting kiranya untuk mempertimbangkan konstruksi-konstruksi pasif seperti di atas sebagai alternatif. Selain itu, Anda patut pula mempertimbangkan pasif ter-, misalnya dalam konteks ketidaksengajaan atau peniadaan unsur pelaku.

4. Pronomina persona dan penggantinya

Pronomina gampangnya disebut sebagai "pengganti nomina", namun disarankan bagi para penerjemah untuk memvariasikannya dengan nomina penyapa dan pengacu, sesuai dengan konteks. Perhatikan contoh di bawah ini.

(13) Usul Bapak Yudi/Anda/saudara/kamu/-mu akan dipertimbangkan.

(14) Bapak Yudi/Anda/saudara/kamu sekarang tinggal di mana?

Yang jarang ditemui dalam penerjemahan adalah pemakaian nomina penyapa dan pengacu (Bapak Yudi) demi kesantunan. Ini disebabkan oleh pengaruh budaya lokal. Kata "Anda" dan "saudara" dipakai demi kesopanan. Bentuk pronomina persona kedua informal kamu terkesan santai dan lebih halus dibandingkan bentuk pendeknya (klitik -mu) yang dipakai untuk tuturan yang lebih kasar.

Catatan: dalam menulis/menyunting, usahakan bentuk-bentuk deiktis semacam ini divariasikan agar pembaca tidak bosan dan tulisan jadi lebih padat informasi.

5. Macam-macam identitas dan fungsi -nya

Membahas pemakaian bentuk -nya seolah tiada habisnya. Mungkin inilah silabe yang berstatus morfem yang paling kompleks dalam bahasa Indonesia. Keempat -nya di bawah ini berbeda artinya.

(15) Ayo, ini apa artinya?

(16) Tolong papan tulisnya dihapus! (dikutip dari Dardjowidjojo, 1983)

(17) Rumah ini dapurnya luas sekali. (dikutip dari Dardjowidjojo, 1983)

(18) Rudi tingginya 180 cm.

(19) Rudi datang ke kamarku, dan buku itu sedang kubaca sambil tiduran. Lalu, tiba-tiba direbutnya. Seketika kemudian dilemparnya ke luar jendela.

Bentuk -nya pada kalimat (15) adalah sufiks. Namun, pada kalimat lainnya bukan. Bentuk -nya pada kalimat (16) dianggap sebagai pronomina tunjuk (mungkin dalam konteks ini pada bahasa Inggris setara dengan "the") atas entitas yang diketahui penutur dan mitra tutur. Sementara itu, -nya pada (17) merupakan posesor dari rumah, -nya pada (18) adalah posesor dari Rudi; keduanya unik karena selain sebagai posesor, -nya sekaligus berfungsi sebagai partikel pentopik. Adapun -nya bersama dengan di- pada (19) keduanya mereferenkan pelakunya adalah Rudi. Bagi banyak kalangan, terlalu banyak memakai -nya menandakan pengaruh bahasa Jawa. Padahal, tidak.

6. Seputar definit-indefinit dan generik-spesifik

Kalau seorang penutur Inggris akan membuat suatu pernyataan tentang anjing pada umumnya dan kesukaannya makan tulang, maka dalam bahasa Inggris dia harus membuat kata bendanya tak definit atau jamak: A dog likes bones, Dogs like bones, atau A dog likes a bone (Dardjowidjojo, 1983). Contoh kalimat yang tidak berterima dalam bahasa Indonesia berikut diambil dari buku Dardjowidjojo (1983).

(20)        a.*Seekor anjing suka tulang-tulang.

              b. *Anjing-anjing suka tulang-tulang.

              c. *Seekor anjing suka sebuah tulang.

              d. *Anjing-anjing suka sebuah tulang.

              e. Anjing suka tulang.

Dalam bahasa Indonesia, berdasarkan tujuan membuat pernyataan, kalimat yang lazim mungkin adalah Anjing menyukai tulang.

Perhatikan juga kalimat di bawah ini.

(21)        a. *Anjing mengejar kucing.

              b. Anjing itu mengejar kucing.

              c. Anjing mengejar kucing itu.

              d. *Anjing itu mengejar kucing itu.

              e. ?Anjing ini mengejar kucing itu.

              f. ?Anjing itu mengejar kucing ini.

              g. Anjing itu mengejar seekor kucing.

              h. Seekor anjing mengejar kucing.

              i. *Seekor anjing mengejar seekor kucing.

              j. Seekor anjing mengejar kucing itu.

Berdasarkan kalimat-kalimat di atas, subjek dalam bahasa tidak boleh memakai bentuk spesifik yang sama dengan objek. Salah satu unsur haruslah berbeda. Pelaku itu pun tidak bersifat manasuka bila verbanya bermakna aksi.

Terkait contoh (20) dan (21) di atas dapat dikatakan bahwa bahasa Indonesia tidak mewajibkan subjek-objek harus sama definit dan spesifik, tetapi dengan maksud yang sama, keduanya boleh sama-sama generik!

Perhatikan contoh penerjemahan di bawah ini.

(22)       a. The Sweden international moved to the Parc des Princes in 2012 and led the capital club to back-to-back Ligue 1 titles in his first two seasons, with the champions just one point behind Lyon at the top of the table as they look to make it three in a row this season. (http://www.goal.com/en-gb/news/3274/ligue-1/2015/03/05/9546782/ibra-wont-retire-at-psg-raiola?ICID=TP_HN_1)

             b. Penyerang yang pernah membela Juventus hijrah ke Parc des Princes pada 2012 dan membawa klub ibu kota Prancis mengamankan titel Ligue 1 dua musim beruntun, dan sekarang hanya tertinggal satu angka di belakang Olympique Lyon di tabel klasemen. (http://www.goal.com/id-ID/
news/1363/sepakbola-prancis/2015/03/06/9551222/zlatan-ibrahimovic-tidak-akan-gantung-sepatu-di-paris-saint?ICID=OP)

Pada hasil terjemahan di atas, mengapa terasa aneh? Mungkin si penerjemah lupa mendefinitkan. Akan tetapi, kalau Anda sering membaca goal.com, mungkin Anda akan berkata lain.

7. Beberapa unsur lesap (yang lain)

Kedua contoh di bawah ini seolah-olah terdapat dua verba.

(23) Dia meringis kesakitan.

(24) Dia bekerja mencari nafkah.

(25) Dia berkata jujur.

Padahal keduanya memperlihatkan bahwa konjungsi kausatif dan preposisi dalam bahasa Indonesia--meskipun jumlahnya banyak--ternyata dapat mengalami pelesapan. Preposisi apa yang hilang? Pada kalimat (23) konjungsi lesapnya adalah karena, sedangkan kalimat (24) dan (25) adalah masing-masing untuk dan secara/dengan.

Dalam bahasa Indonesia (terutama nonformal) pelesapan adalah hal biasa. Sebagai contoh, pemakaian pronomina persona yang sama umumnya dihilangkan demi efisiensi. Berikut contohnya.

(26) Sesudah (saya) bangun, saya mandi. Setelah (saya) itu, (saya) makan pagi.

8. Bentuk-bentuk lazim yang disalahkan

Terkadang terjadi salah paham di antara kalangan awam yang membicarakan bahasa Indonesia (bahkan ada juga dosen atau guru yang berpendapat seperti ini): yang di awal kalimat tidak boleh dipakai, karena di awal kalimat itu salah, atau semua verba aktif transitif harus memakai afiks meN-. Coba perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini.

(27) Yang menulis buku itu (adalah) saya.

(28) Karena lapar, dia makan.

(29) Dia makan roti.

Keberadaan yang umumnya berfungsi sebagai relator antarunsur pada frasa nomina dan tidak berstatus argumen, tetapi boleh saja yang di awal kalimat (KBBI menganggapnya berstatus argumen sementara para linguis menyebutnya "ligatur"). Sementara itu, kalimat (28) didapatkan dari konstruksi asali Dia makan karena lapar; inversi semacam itu sangat wajar. Terakhir, bentuk meN- tidak harus hadir pada kata makan dan minum (kecuali dalam ragam kaku).

9. Peran urutan dalam menonjolkan informasi

Dalam kegiatan berbahasa, kita boleh saja menonjolkan satu bagian yang kita anggap penting. Salah satu cara berbahasa untuk menonjolkan informasi semacam itu adalah dengan menentukan urutan konstituen secara selektif. Dalam linguistik terdapat pasangan subjek-predikat, topik-komen, tema-rema, atau pelatardepanan-pelatarbelakangan. Kiranya apa perbedaan keempat dikotomi itu tidaklah penting untuk dibahas. Yang lebih dirasa perlu adalah urutan konstituen itu sendiri. Adapun morfosintaksis sebenarnya sangat perlu meninjau urutan ini. Inti dari tatabahasa, menurut saya, adalah bagaimana mengatur urutan leksem agar gramatikal dan sesuai dengan motivasi kebahasaan penutur. Padahal, dalam menuturkan satu maksud, bentuk kalimat dan kata-kata yang dipakai untuk menyusunnya dapat berbeda-beda. Akan tetapi, tentu dalam dunia penerjemahan perlu kiranya tidak boleh banyak mengambil bentuk yang terlalu menyimpang dari naskah aslinya. Berikut contoh bagaimana menonjolkan informasi dengan "bantuan" urutan dan perangkat morfosintaksis.

(29)        a. It was Nick that Stand saw at the party.         (it‐cleft)

              b. Who Stand saw at the party was Nick.            (WH‐cleft)

              c. Stand saw Nick at the party.

(30)        a. Adalah Nick yang dilihat Stand di pesta itu. (inversi eksistensial)

              b. Yang dilihat Stand di pesta itu adalah Nick. (ekuatif)

              c. Stand melihat Nick di pesta itu.

Dilihat dari hasil alih bahasa di atas, konstruksi bahasa Indonesia berbeda dengan bahasa Inggris dalam hal kala, pemakaian subjek, perelatifan, dan konstruksinya.

 

10. Masalah Interferensi

Tulisan ini merangkum dari paparan saya di media kompasiana.com dengan revisi di sana-sini. Perhatikan kalimat di bawah ini.

(31) *Kebanyakan siswa membawa ponsel ke sekolah.

Pada kalimat di atas kebanyakan siswa merupakan sebuah frasa. Bagian inti adalah siswa dan atributnya adalah kebanyakanKebanyakan, dalam konteks apa pun, bermakna ‘terlalu banyak’, misalnya Masakan sangat asin karena kebanyakan garam atau Kebanyakan begadang bikin   pusing. Jadi, apabila digabung dengan bagian inti, seharusnya makna frasa pada contoh di atas       menjadi ‘terlalu banyak siswa’.

Kasus tersebut adalah salah satu contoh merupakan pemengaruhan bahasa Inggris dalam  bahasa Indonesia. Kebanyakan + “inti” mungkin merupakan hasil pemengaruhan bentuk most of (bahasa Inggris), misalnya most of viewers atau most of students. Solusi terhadap permasalahan ini sebenarnya sangat sederhana, yakni mengubahnya menjadi frasa “sebagian besar” atau bisa juga “mayoritas”. Memang ada perubahan karena tidak sesuai, namun ini lebih berterima. Bagaimanapun juga, kaidah makna yang dikandung oleh satu struktur bahasa dengan bahasa lain jelas berbeda.

Permasalahan lain pada pemakaian bentuk di mana. Awalnya, di mana mungkin saja merupakan kesalahan penerjemahan kata where yang salah satu fungsi utamanya dalam bahasa Inggris adalah sebagai konjungsi antarklausa. Dalam berbagai media, seringkali muncul kesalahan ini. Di bawah ini adalah contoh kesalahan terjemahan, yakni terjemahan buku The Aroma of Success― Evita Zoraya.

 (32)        a. Don’t think this like caffeine where you do need more and more shots. 

               b. *Jangan menyamakan ini seperti kafein di mana Anda perlu terus-menerus meminumnya.

(33)         a. Have you ever in a situation where you panic?

               b. *Pernahkah Anda berada dalam situasi di mana Anda panik?

Konjungsi seperti di atas kemudian diikuti oleh penulis lokal (bukan terjemahan) seperti contoh di bawah ini.

(34)        a. *Ini adalah eksperimen yang menakjubkan di mana hewan kehilangan sisi liarnya. (www.kucingkita.com)
               
(35)        a. *Obat tetes biasanya diteteskan di kulit pangkal kepala di bagian belakang, di mana kucing tidak bisa menjilat bagian tersebut. (www.kucingkita.com)

 Sejatinya dalam bahasa Indonesia kalimat ini tidak berterima. Tidak berterima hanya gara-gara di mana! Dalam bahasa Inggris where ('di mana'), selain digunakan sebagai kata tanya, lazim dan baku pula digunakan sebagai konjungsi antarklausa. Namun, tidak demikian halnya dengan bahasa Indonesia. Di mana bukanlah konjungsi antarklausa dalam bahasa Indonesia. Adapun konjungsi yang berterima dalam bahasa Indonesia adalah karenasebabsehingga, maka, dan lain-lain. Uniknya, karena tahu bahwa di mana merupakan kata tanya, banyak media kemudian menuliskannya menjadi di mana. Penggabungan dua kata ini mungkin maksudnya untuk membentuk konjungsi baru yang sepadan dengan where dalam bahasa Inggris. Padahal kondisi tersebut semakin memperparah kesalahan.

                Solusi alternatif:

(32)        c. Jangan menyamakan ini seperti kafein yang perlu Anda minum terus-menerus.

(33)        c. Pernahkah Anda berada dalam situasi panik?

(34)        b. Ini adalah eksperimen yang menakjubkan karena hewan kehilangan sisi liarnya.

(35)        b. Obat tetes biasanya diteteskan di kulit pangkal kepala di bagian belakang sehingga kucing tidak bisa menjilat bagian tersebut.

Kesalahan semacam di atas, awalnya, sangat lazim muncul dalam setiap penerjemahan buku-buku asing dan hasil liputan wartawan asing (misalnya dar kantor berita Reuters atau AFP). Buku-buku serta media massa asing yang diterjemahkan di Indonesia hampir seluruhnya berbahasa Inggris. Tak ayal, seringkali tanpa sadar, penutur ataupun penulis lokal yang akrab dengan bahasa Inggris menggunakan struktur bahasa tersebut.

 

 MENGEFEKTIFKAN KALIMAT

Salah satu tuntutan bagi penulis, editor, dan penerjemah dalam dunia naskah adalah kesanggupan dalam mengefektifkan kalimat (meskipun efektif tidak selalu berarti 'sederhana'). Dalam hubungannya dengan penerjemahan, keefektifan dilihat dari ketersampaian gagasan yang sama, kehematan dalam sintaksis dan wacana pada BSa, memperhatikan pementingan informasi, serta penyesuaian dengan karakter Bsa. Selain itu, penting juga kiranya penerjemah mempunyai spesialisasi jenis teks. Perhatikan contoh di bawah ini.

(36)        a. Berbicara tentang "struktur" dan juga "strukturalisme" tidak selalu dalam arti yang sama.

              b. Pengertian struktur dan strukturalisme tidaklah sama.

(37)        a. Dewasa ini, penelitian-penelitian yang menggunakan prosedur ilmiah sangat dibutuhkan orang untuk memecahkan berbagai persoalan sastra yang dihadapi oleh para peneliti sastra.

              b. Dewasa ini penelitian sastra diperlukan untuk memecahkan berbagai persoalan sastra yang dihadapi peneliti sastra.

Kalimat (36a) dan (37a) dapat disunting menjadi kalimat (36b) dan (37b). Kalimat (36a) dituliskan tanpa hati-hati sehingga tidak jelas. Kalimat (37a) dituliskan terlalu panjang; bentuk penelitian sastra dan peneliti sastra bersifat generik sehingga artinya dapat dianggap jamak; tidak ada penelitian yang tidak memakai prosedur ilmiah.

Berikut contoh terjemahan yang tidak efektif (38b) dan yang lebih efektif (38c).

(38)        a. "We know what is in front of us now. The remaining games, we have to win, and we are more than capable of doing that. We have done it before. It is important we build on this win and take that forward."

              b. "Kami tahu apa yang ada di depan kami sekarang ini. Sisa laga, kami harus memenanginya, dan kami sangat bisa mewujudkannya. Kami pernah melakukannya. Sangat penting kami bisa terus melanjutkan tren kemenangan ini dan melangkah ke depan."

             c. "Kami tahu yang kami hadapi saat ini. Kami harus memenangi sisa laga, dan kami sangat bisa mewujudkannya. Kami pernah melakukannya. Sangatlah penting untuk melanjutkan tren kemenangan ini dan terus melangkah ke depan."

Contoh di atas adalah nukilan wawancara. Yang dapat diefektifkan adalah penghilangan pemakaian "apa" dan "sekarang ini" serta penghilangan unsur dislokasi kiri. Kesulitannya adalah pada unsur "kami" yang terlalu sering muncul. Namun, karena ini nukilan wawancara (yang tentu mempunyai unsur penekanan tertentu), keberadaannya dapat dimaklumi.

 

SIMPULAN

Bahasa mungkin dapat disebut sebagai perangkat komunikasi alamiah tercanggih manusia. Akan tetapi, setiap bahasa mempunyai batasnya masing-masing yang pada akhirnya menunjukkan karakter yang berbeda-beda. Perbedaan pembentukan istilah dan perbedaan struktur kalimat dapat menunjukkan cara berpikir yang berbeda. Dengan demikian, sepertinya pendapat Sapir Whorf ada benarnya. Cara berpikir orang Indonesia tecermin dalam bahasa Indonesia. Catatan khusus tentang karakter bahasa Indonesia di antaranya adalah (1) orang Indonesia berbahasa secara implisit, terutama dalam permasalahan pelaku, terutama dalam tulisan formal, (2) elipsis wajar terjadi karena pada dasarnya bahasa Indonesia lebih peka konteks, sedangkan keberadaan suatu unsur tambahan (misalnya perihal temporal dan preposisi) hanya digunakan untuk keterjelasan, (3) arti verba dalam bahasa Indonesia tidak dapat diserahkan sepenuhnya pada afiks, tetapi afiksasi sangat dominan dalam pembentukan kata, (4) unsur sapaan sangat penting dalam mengkreasikan kesantunan, dan (5) penggunaan -nya bisa sangat dominan dalam percakapan lisan. Terkait materi pelatihan ini, perlu kiranya penerjemah menyegarkan ingatannya kembali pada pelajaran bahasa Indonesia serta mengasah kepekaan berbahasa Indonesia dengan menspesialisasikan diri pada jenis teks tertentu.

 

Bibliografi

Alwi, Hasan, dkk. 2006. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia: Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Dardjowidjojo, Soenjono. 1983. Beberapa Aspek Linguistik Indonesia. Jakarta: ILDEP.

Jufrizal, dkk. 2007. "Hipotesis Sapir-Whorf dan Struktur Informasi Klausa Pentopikalan Bahasa Minangkabau." Dimuat dalam jurnal Linguistika, Vol. 14, No. 26.

Kaswanti Purwo, Bambang. 1984. Deiksis dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Kaswanti Purwo, Bambang (ed.). 1989. Serpih-Serpih Telaah Pasif Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.

Lapoliwa, Hans. 1992. "Frasa Preposisi dalam Bahasa Indonesia." Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Parera, Jos Daniel. 1994. Sintaksis: Edisi Kedua. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Poedjosoedarmo, Soepomo. Mimeo. “Materi Perkuliahan Teori Linguistik Pascasarjana Linguistik UGM 2010.”